selamat berjihad kawan-kawan PII senusantara.. lahirkan kader-kader pemersatu ummat pejuang syariah.. semoga training liburan ini sukses..

Kamis, 28 Oktober 2010

GERAKAN MAHASISWA ISLAM KINI (Sebuah Renungan Terhadap Perjuangan M. Natsir)

sebuah tulisan yang saya ambil dari blog kakanda rozak daud hommabatan, semoga bermanfaat bagi kita semua..
Sejatinya sebuah gerakan mahasiswa Islam mesti mempunyai arah dan tujuan yang ideal dan substansial. Sejarah pergerakan mahsiswa (Islam) yang hidup di republik ini, penuh dengan makna dan nilai-nilai luhur dan transendental. Dalam rangka membentuk aktivis dakwah kampus yang idealis, respon terhadap kondisi sosial dan mempunyai sikap rendah hati untuk mencari ridho Tuhan semata. Hal inilah yang melatari salah seorang pahlawan nasional yang baru saja disahkan oleh pemerintah sebagai Pahlawan Nasional, Dr. Mohammad Natsir untuk membangun jaringan kader atau aktivis dakwah kampus. Misi intelektualitas dan keummatan menjadi media untuk menciptakan aktivis-aktivis Islam yang handal dan mempunyai kepekaan sosial. Diawali dari berdirinya Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang kemudian hari telah menelurkan para aktivis gerakan Islam, khususnya di kalangan kampus. Menurut Natsir, ada 3 komponen utama yang menjadi wahana atau media untuk dakwah, yaitu: Pesantren, Kampus dan Mesjid. Tiga komunitas inilah yang menjadi urat nadi dalam membangun basis keummatan dan basis intelektualitas di internal umat Islam. Cita-cita Natsir yang mulia tersebut kemudian mengilhami para kader-kader mahasiswa Islam atau dikenal aktivis Islam kampus untuk mengembangkan resonansi dakwah Islam menjadi lebih luas lagi. Diantara aktivis kampus yang peka dan terilhami oleh Natsir adalah Imaduddin Abdurrahim atau lebih dikenal sebagai Bang Imad. Di kalangan aktivis Islam kampus generasi awal, peran penting Bang Imad tidaklah bisa dilupakan. Kontribusi beliau mempioneri lahirnya Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan pusat-pusat kajian Islam di mesjid-mesjid kampus telah membangkitkan ghirah intelektualitas mahasiswa Islam di berbagai kampus. Bermula dari Mesjid Salman Al-Farisi, Kampus ITB, kemudian tersebar ke berbagai kampus (umum) di pulau Jawa dan luar Jawa.




Menjadi fokus kajian yang penting di sini adalah, peran serta para aktivis Islam sebagai pusaran intelektualitas kampus dan ujung tombak bagi terbangunnya Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Jasa besar Muhammad Natsir tidak bisa dilupakan begitu saja oleh para aktivis Islam kampus. M. Natsir sebagai seorang negarawan, politikus dan pemikir Islam, menginginkan komunitas kampus menjadi titik nadi bagi dinamika intelektualisme yang progresif. Sebagai wadah untuk berpikir ke depan bagi ummat dan bangsa. Watak berpikir keummatan, kebangsaan dan intelektualitas inilah yang sebenarnya menjadi karakteristik dakwah kampus sejatinya. Paradigma aktivis Islam kampus, jangan serta merta bergeser begitu saja, tanpa menengok akar sosio-historis dinamika gerakan dakwah kampus. Penulis berpikir bahwa realitanya sekarang adalah terjadinya distorsi paradigma gerakan dakwah Islam kampus. Banyak diantara kalangan aktivis dakwah Islam yang lupa (sengaja atau tidak), terhadap konstruksi sosio-historis gerakan mahasiswa (aktivis) Islam kampus. Karakter intelektualitas merupakan ciri mendasar bagi terbangunnya paradigma pergerakan yang progresif. Aktivis mahasiswa Islam yang intelek dan cendekia telah banyak dilahirkan melalui tangan Pak Natsir dan Bang Imad. Karakter keummatan merupakan tipologi yang memang peyoratif (internal umat), namun telah menjadi sifat yang pas untuk membangun kader-kader aktivis mahasiswa Islam yang peduli terhadap umat Islam. Sejarah membuktikan ketika pada mulanya rezim Soekarno maupun Soeharto memandang kalangan aktivis Islam kampus sebagai duri dalam daging. Makanya di era Soeharto kalangan aktivis Islam khusunya di kampus diasosiasikan sebagai ”Ekstrim Kanan” di samping gerakan ”Ekstrim Kiri’ yang berhaluan sosialis-komunis. Karakteristik yang tak bisa dihilangkan adalah watak kebangsaan. Sejarah nasional membuktikan bahwa Pak Natsir merupakan negarawan yang mencetuskan mosi integral bagi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tiga pilar inilah yang mestinya dibaca ulang oleh para aktivis dakwah mahasiswa Islam kampus, untuk kemudian diimplementasikan secara rasional.



Seandainya Pak Natsir masih hidup, mungkin beliau akan bersedih ketika melihat realita sosial berbagai aktivitas gerakan mahasiswa Islam kampus kini. Para kader-kader dakwah yang beliau lahirkan telah banyak sumbangsihnya bagi ”terhijaukannya” kampus-kampus di republik ini. Namun kini, nilai juang yang digoreskan oleh Pak Natsir dan Bang Imad di kalangan aktivis Islam kampus mengalami reduksi. Watak intelektualisme telah mengerucut kepada karakter ”taklid buta” atau bahasa sederhananya adalah mengikuti pendapat/pemikiran orang lain tanpa mengetahui ilmunya. Intelektualisme yang sejati adalah menggunakan segala kapabilitas rasional untuk memberikan solusi-solusi terhadap permasalahan keummatan dan kebangsaan. Diskusi-diskusi yang menggoda keimanan dan memacu logika untuk berpikir mendalam (falsafati) menjadi barang yang mahal di kalangan aktivis Islam kampus. Bahkan logika dan rasionalitas yang berindukkan filsafat, telah dijadikan konsumsi yang haram bagi sebagian aktivis mahasiswa Islam kampus. Watak keummatan telah direduksi menjadi watak kelompok, harokah, organisasi pergerakkan (dakwah Islam), usroh, dan sebutan lainnya, yang menunjukkan jika aktivis mahasiswa Islam kampus telah terkotak-kotak dan menjadi kerdil. Sehingga terma ”kami” dan ”mereka” adalah kata yang wajib untuk mengklasifikasikan personal yang ada di dalam kelompok dan personal yang berada di luar kelompok. Watak keummatan sejatinya adalah bentuk kepekaan terhadap kondisi umat yang dalam konteks nation-state adalah bangsa Indonesia tercinta. Watak keummatan berujung kepada watak kebangsaan yang lebih luas lagi. Dalam konteks negara modern, konsep nation-state menjadi mutlak dipakai, sebab pluralitas, multikulturalisme, demokrasi dan toleransi adalah keniscayaan. Faktanya kini adalah paradigma berpikir yang sempit dalam menanggapi idiom-idiom asing yang muncul. Sifat alergi terhadap multikulturalisme, pluralitas, toleransi bahkan demokrasi ditunjukkan oleh banyak komponen aktivis mahasiswa Islam. Semua itu seakan-akan menjadi barang yang syubhat jika tidak dikatakan haram, sebab merupakan produk impor dari Barat. Kemudian, tidaklah mengherankan jika sekarang akan susah untuk membedakan aktivis mahasiswa Islam dengan aktivis partai. Fenomena sosio-politis keagamaan ini menjadi sesuatu yang biasa saat ini. Menjadi rahasia umum jika suatu gerakan mahsiswa Islam di kampus telah berafiliasi dengan pertai politik tertentu. Walaupun hal itu akan membunuh idealisme dan nilai-nilai transendental suatu gerakan mahasiswa Islam. Watak kebangsaan dan keummatan yang mengharuskan kepekaan terhadap kemiskinan, kebodohan, akses pendidikan, antrian minyak di kampung-kampung, perjuangan hak azasi manusia, korupsi yang merajalela, supremasi hukum, kontrol terhadap pemerintah, nasib para buruh/pekerja, penanaman modal asing dan lainnya, telah terkonversi menjadi politisasi agama demi kekuasaan, sesat-menyesatkan masalah khilafiah, pendekatan kepada para calon anggota legislatif untuk Pemilu 2009, demonstrasi yang dibayar demi kepentingan kelompok atau partai tertentu, yang pada akhirnya terjadilah pengekebirian dan pemandulan terhadap watak intelektual, keummatan dan kebangsaan para aktivis mahasiswa Islam kampus.



Tentunya penulis mengharapkann agar setiap mahasiswa yang menyandang aktivis mahasiswa Islam kampus untuk kembali membaca ulang sejarah terbangunnya gerakan mahasiswa Islam kampus. Agar tak terjadi lagi paradoksal idealisme sebuah gerakan mahasiswa Islam dan distorsi konstruksi sejarahnya. Penulis mengharapkan agar Natsir muda, Nurcholis Muda, Ahmad Wahib muda, Imaduddin muda kembali terlahir di era pergerakkan mahasiswa Islam kontemporer yang berhadapan langsung dengan multikrisis seperti sekarang. Semoga

0 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...